creco3
creco2
creco

News

 

 

Job Disruption dan Job Creation
Oleh Tri Murti dan Abdul Aziz | Senin, 20 November 2017 | 15:11

Menurut ekonom senior/Ketua Yayasan Indonesia Forum Raden Pardede, revolusi industri ke-4 mengalami dua fase, yakni fase job disruption dan fase job creation. Fase job disruption atau disrupsi lapangan kerja terjadi setelah muncul inovasi teknologi yang sangat revolutif, yang ‘mengganggu’ tatanan lama.

Fenomena yang mendorong peralihan teknologi dan model bisnis dari konvensional ke digital itu dikenal dengan istilah teknologi disruptif atau disrupsi teknologi. Disrupsi sudah meluas ke berbagai bidang dan tatanan, bukan cuma teknologi.

Fase job disruption, kata dia, merupakan jembatan menuju fase job creation atau penciptaan lapangan kerja baru. Masa transisi dari fase job disruption ke fase job creation itulah yang mesti diantisipasi. “Tidak mudah berpindah ke lapangan kerja atau model bisnis baru. Perlu penyesuaian-penyesuaian, perlu skill yang berbeda, perlu sistem baru. Makanya, masa transisi dari job disruption ke job creation adalah masa paling kritis,” tutur dia.

Raden Pardede menjelaskan, pada fase job disruption, PHK tak terhindarkan karena peran manusia dalam rantai bisnis secara fisik digantikan mesin atau robot, internet, dan teknologi baru lainnya. Bila selama masa transisi tidak disiapkan langkah-langkah yang tepat, fase job creation tidak akan menghasilkan banyak lapangan kerja.

Dia mengungkapkan, pemerintah bersama dunia usaha, dunia pendidikan, dan para pemangku kepentingan lainnya bisa menempuh sejumlah langkah. Pertama, menyediakan substitusi lapangan kerja atau komplemen lapangan kerja sementara, sehingga SDM yang di-PHK bisa kembali bekerja. Langkah kedua yaitu mendidik mereka agar memiliki keahlian (skill) khusus untuk memasuki lapangan kerja baru.

Kecepatan mencetak tenaga kerja yang adaptif terhadap teknologi disruptif, menurut Raden Pardede, akan menentukan keberhasilan bangsa Indonesia menghadapi revolusi industri ke-4 dan menjadikannya peluang emas untuk menjadi negara maju. Jika gagal, Indonesia akan terus terpuruk dalam jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

“Indonesia harus menjadikannya sebagai golden opportunity karena kita masih menikmati bonus demografi sampai 10-15 tahun ke depan,” tegas dia. (bersambung)

Sumber berita : Investor Daily (http://id.beritasatu.com/home/job-disruption-dan-job-creation/168110)


 

 

 

 
 
 

 

 

Waspadai Disrupsi Lapangan Kerja
Oleh Tri Murti dan Abdul Aziz | Senin, 20 November 2017 | 15:27

JAKARTA- Pemerintah, kalangan pengusaha, dan dunia pendidikan harus segera mencari solusi untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat teknologi disruptif (disruptive technology) yang menjadi ciri utama revolusi industri ke-4.

PHK besar-besaran bakal terjadi jika para pemangku kepentingan gagal mengantisipasi masa transisi dari fase disrupsi lapangan kerja (job disruption) ke fase penciptaan lapangan kerja (job creation) dalam tahapan revolusi industri ke-4.

Indonesia rentan terkena dampak negatif teknologi disruptif karena negara ini baru menjalani revolusi industri ke-2 dan ke-3. Apalagi sekitar 80% SDM di Indonesia berpendidikan rendah. Saat ini, PHK akibat teknologi disruptif sudah terjadi secara sporadis di beberapa sektor.

Jika tidak diantisipasi, revolusi industri ke-4 bisa menyebabkan bangsa Indonesia tidak dapat menikmati bonus demografi. Bonus demografi yang seharusnya mendatangkan manfaat malah menjadi petaka karena penduduk usia produktif yang mendominasi populasi tidak mendapatkan lapangan pekerjaan.

Agar teknologi disruptif tidak memicu PHK massal, terutama di sektor-sektor industri padat karya, pemerintah harus menggalakkan program pendidikan vokasi (kejuruan) untuk mencetak para pekerja berkeahlian khusus, sehingga mereka bisa bekerja di sektor-sektor usaha yang mengalami disrupsi.

Pemerintah juga harus mengupayakan para pekerja yang terkena PHK menjadi entrepreneur di sektor-sektor informal yang berkualitas. Karena sekitar 97% bisnis di Indonesia berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), para pebisnis UMKM harus didorong agar adaptif dan akomodatif terhadap teknologi disruptif.

Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan ekonom senior yang juga Ketua Yayasan Indonesia Forum Raden Pardede, Sekjen Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar, ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandhi, ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistyaningsih, dan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Sabtu (18/11). (bersambung)

Sumber berita : Investor Daily (http://id.beritasatu.com/home/waspadai-disrupsi-lapangan-kerja/168113)